Kamis, 15 September 2016

Ganti Mobil Baru, Antara Sebuah Gengsi dan Kebutuhan


Jika dibandingkan dengan industri lainnya, industri otomotif bisa dikategorikan sebagai salah satu industri yang cukup berkembang selama beberapa tahun belakangan ini. Bahkan dalam sebuah event otomotif nasional beberapa waktu lalu, wakil presiden Jusuf Kalla sempat mengatakan bahwa selama ini industri otomotif turut menyumbangkan banyak pencapaian bagi pembangunan nasional di negri ini. Bukan hanya dalam hal pertumbuhan ekonomi nasional, namun lebih jauh industri otomotif pun ikut membantu membuka banyak lapangan pekerjaan di negri ini.

Benar, untuk saat ini Indonesia memang masih belum mampu memproduksi mobil berskala nasional, namun bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun mendatang wacana tersebut bisa benar-benar terwujud. Apalagi jika melihat, industri komponen otomotif dalam negri yang sudah berada di tier 1 dan 2 atas prestasinya dalam memproduksi beragam komponen kendaraan bermotor seperti body luar mobil, chasis, cakram rem, ban, dan komponen-komponen lainnya. Terbukti bahwa Indonesia sudah memiliki cukup SDM (sumber daya manusia) yang terampil dan bisa bersaing dalam bidang ini.

Dan jangan lupa, selain Thailand, Indonesia juga merupakan pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara. So, nggak heran jika kemudian banyak investor asing yang menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor produk otomotif mereka. Terbukti dari meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dinegri ini, menurut data resmi pemerintah melalui BPS (Badan Pusat Statistik) dan Kantor Kepolisian Republik Indonesia, berikut ini:



Ok, disatu sisi mungkin memang masih ada perdebatan soal dampak kemacetan yang ditimbulkan oleh ekspor produk otomotif ini. Tapi disisi lain, harus diakui, berkat mereka kita jadi sedikit tahu kalau sebagian masyarakat menengah keatas di negri ini ternyata memang bisa dikatakan memiliki kehidupan yang cukup "sejahtera" dengan daya beli mereka yang masih sangat stabil. Dan kabar baiknya, tentu saja daya beli mereka ikut berpengaruh pada pembangunan ekonomi nasional, dimana negara bisa meningkatkan "kesejahteraan sosial dan ekonomi" bagi masyarakat menengah kebawah.

Intinya, masih ada simbiosis mutualisme dalam hal ini yang nggak bisa kita abaikan, toh selain faktor ekspor produk otomotif tadi, masih banyak faktor penyebab kemacetan lain dinegri ini bukan?  Seperti jumlah penduduk yang terus meningkat, PKL (pedagang kaki lima) yang dibeberapa titik masih memanfaatkan badan jalan untuk berjualan, belum lagi kesadaran berlalu lintas dengan tertib dinegri ini memang masih sangat rendah. Dan selama pemerintah belum bisa menyelesaikan masalah urbanisasi, transportasi publik dinegri ini dan memperbaiki mental para pengguna jalan beserta petugas lalu lintas itu sendiri. Mau Industri otomotif dan ekspor kendaraan bermotor dihambat dengan beban pajak yang jauh lebih besar sekalipun kayanya sih tetap nggak akan mengurangi dampak kemacetan di negri ini, khususnya di Ibukota Jakarta hehe...

Nah, setelah melihat beragam fakta tersebut, akhirnya terbersit sebuah pertanyaan kecil dibenak ini. Sebenarnya kebiasaan beli mobil baru dimasyarakat kita itu, benar-benar karena sebuah kebutuhan atau hanya sekedar gengsi sih?

Iseng-iseng saya bikin survey kecil-kecilan ke beberapa temen, sekedar pengen tahu doang, dan jawabannya ternyata emang beragam haha...

Ada yang beli mobil baru, karena menurutnya kredit mobil baru saat ini jauh lebih murah, hanya dengan memberikan uang muka 12-20jt dengan cicilan 2-5jt per bulan mereka udah bisa memiliki sebuah mobil baru jenis Low Cost Green Car (LCGC). Dan lagi menurut mereka pajak tahunannya pun nggak terlalu memberatkan. Jawaban yang cukup masuk akal sih, apalagi pemerintah emang ngasih keringanan beban pajak kan khusus untuk mobil murah.

Ada juga yang jawab, kalau mereka beli mobil baru supaya hasil kerjanya bisa dilihat orang lain sekaligus ngangkat status "diri" mereka di masyarakat.

Agak lebih ngawur lagi ada juga yang jawab untuk menarik perhatian lawan jenis supaya lebih mbois (keren) hahaha...

Tapi nggak sedikit juga yang menjawab kalau mereka beli mobil baru memang karena kebutuhan semata. Entah, itu karena jarak tempuh kantor mereka cukup jauh dan melelahkan jika harus ditempuh dengan sepeda motor atau karena kini mereka telah berkeluarga dan memang butuh kendaraan yang kapasitas penumpangnya jauh lebih banyak dari sepeda motor atau mobil lama mereka.

Intinya, jawaban dari pertanyaan saya adalah, keduanya benar hahaha...

Dan secara pribadi sih, menurut saya beli mobil baru memang jauh lebih efisien ketimbang beli mobil bekas dengan biaya perawatan dan suku cadang yang kemungkinan jauh lebih mahal hehe...

Btw, kalo diantara anda ada yang lagi nyari referensi mobil baru dengan harga yang cukup terjangkau, Mobiloka mungkin bisa menjadi salah satu marketplace online yang bisa anda tuju. Soalnya selain lengkap, banyak voucher menarik yang bisa anda temukan :)




0 komentar:

Posting Komentar

Connected with Me