Inilah, 8 Pencetus Atau Penyebab Alergi Yang Wajib Kamu Ketahui


Terdapat beberapa pencetus alergi atau penyebab alergi yang berbeda-beda. Yang paling umum meliputi pollen (serbuk sari), dust mites (debu tungau), mold (jamur), bulu hewan peliharaan, sengatan/gigitan serangga, latex (rubber/karet), serta makanan dan obat-obatan tertentu. Jika anda mengalami reaksi alergi, gejala yang ditimbulkan dapat bervariasi, mulai dari yang ringan (iritasi mata dan hidung tersumbat) sampai reaksi yang lebih berat yang menyebabkan pembengkakan menyeluruh dan kesulitan bernafas.

Jika anda menderita asma, reaksi terhadap setiap substansi penyebab alergi dapat memperburuk gejala asma yang anda derita. Namun, terdapat langkah-langkah yang dapat anda ambil untuk mencegahnya serta menangani serangan alergi ketika hal ini terjadi.

Pollen Allergy (Alergi Serbuk Sari)


Paparan serbuk sari dapat mencetuskan terjadinya hay fever atau alergi musim semi. Gejalanya meliputi bersin-bersin, hidung meler, hidung tersumbat, serta mata berair dan gatal. Perawatannya dengan mengkonsumsi obat-obatan baik yang dijual bebas maupun yang diresepkan dokter, yang meliputi antihistamin (seperti Benadryl, Clarinex, Zyrtec, atau Allegra), oral decongestants (seperti Sudafed), nasal decongestants (seperti Afrin dan Dristan), steroid nasal sprays (seperti generic fluticasone, Rhinocort, Nasonex, Flonase, dan Veramyst), serta obat-obatan yang merupakan kombinasi antara antihistamin dan dekongestan (seperti Allegra-D, Claritin-D, atau Zyrtec-D). Allergy shots (suntikan anti alergi, atau disebut juga dengan imunoterapi), juga dapat menjadi pilihan.

Pencegahan gejala alergi ini adalah dengan cara tinggal di dalam ruangan pada hari yang berangin atau pada saat kandungan serbuk sari dalam udara tinggi, menutup jendela, menyalakan AC, dan menjauhkan diri dari jemuran pakaian selama musim semi.

Dust Mite Allergy (Alergi Debu Tungau)


Debu tungau adalah organisme mikroskopis yang hidup dalam debu. Gejala dari alergi debu tungau serupa dengan gejala alergi serbuk sari, namun sering kali terjadi sepanjang tahun, tidak hanya semusim. Perawatannya dapat meliputi obat-obatan seperti antihistamin, dekongestan, atau nasal sprays (obat semprot hidung).

Bantu cegah alergi debu tungau dengan cara memasang pelindung anti debu tungau pada matras, bantal, dan kasur pegas, menggunakan bantal hypoallergenic, mencuci sprei dan sarung bantal dalam air panas seminggu sekali, dan menjaga seluruh area di dalam rumah, terutama kamar tidur bebas dari benda-benda yang dapat menjadi tempat berkumpulnya debu, seperti boneka bulu, gorden, dan karpet. Kelembaban ruangan harus dijaga agar tetap berada di bawah 45%.

Mold Allergy (Alergi Jamur)


Mold merupakan jamur parasit mikroskopis dengan spora yang melayang di udara seperti halnya pollen(serbuk sari). Jamur ini dapat menjadi pemicu umum terjadinya alergi dan mungkin ditemukan pada area yang lembab, seperti basement (ruang bawah tanah) atau kamar mandi, serta rumput, tumpukan daun yang berguguran di tanah, jerami, atau di bawah mushroom (cendawan). Gejala alergi jamur ini dapat terjadi musiman, terutama pada musim panas dan musim gugur, atau sepanjang tahun jika jamur ini berada dalam rumah anda. Gejalanya serupa dengan gejala alergi serbuk sari dan alergi debu tungau, yaitu meliputi bersin-bersin, hidung tersumbat, mata berair dan gatal, hidung meler, serta batuk-batuk. Perawatannya meliputi menghindari dan menghilangkan faktor-faktor yang memberi kontribusi terhadap pertumbuhan jamur ini. Obat-obatan dan terapi yang sama seperti yang digunakan pada perawatan alergi debu tungau dan alergi serbuk sari dapat digunakan untuk mengatasi alergi jamur ini.

Bantu cegah alergi jamur ini dengan cara menghindari aktifitas yang memicu timbulnya gejala, seperti membersihkan daun yang berguguran, atau gunakan masker ketika membersihkan daun yang berguguran jika anda mengidap alergi. Pastikan agar daerah yang lembab di dalam rumah seperti ruang bawah tanah dan kamar mandi memiliki ventilasi yang baik. Cari dan perbaiki area-area dimana terjadi kebocoran air. Minimalisir keberadaan tanaman di dalam rumah, karena tanahnya merupakan tempat berlindung dan pendukung pertumbuhan jamur ini.

Animal Dander Allergy


(Dander = kerak dari kulit atau bulu hewan, seperti dandruff = ketombe pada manusia)

Protein yang disekresikan oleh kelenjar minyak pada kulit hewan peliharaan serta protein yang ada dalam saliva (air liur) hewan peliharaan, dapat menyebabkan reaksi alergi bagi beberapa orang. Alergi terhadap hewan peliharaan membutuhkan waktu 2 tahun atau lebih untuk terjadinya, dan gejalanya mungkin tidak akan mereda sampai berbulan-bulan setelah menghentikan kontak dengan hewan peliharaan. Gejalanya meliputi bersin-bersin, hidung tersumbat, serta mata berair dan gatal. Perawatannya termasuk menghindari kontak dengan hewan peliharaan yang menyebabkan alergi jika memungkinkan. Obat-obatan seperti antihistamin, dekongestan, nasal steroid, atau obat-obatan lainnya mungkin akan membantu. Imunoterapi (pemberian suntikan anti alergi) mungkin akan direkomendasikan jika gejala alergi yang anda alami bersifat kronis.

Kecoa dapat menyebabkan gejala yang sama, dan perawatannya juga sama.

Cegah alergi terhadap hewan peliharaan dengan cara mengeluarkan hewan peliharaan dari dalam rumah, atau setidaknya dari dalam kamar tidur. Jauhkan hewan peliharaan dari upholstery furniture (furniture dengan kain pelapis, misalnya sofa) dan mandikan hewan peliharaan seminggu sekali. Pencegahan alergi terhadap kecoa meliputi menyimpan sampah dalam tempat tertutup dan membuangnya secara teratur.

Insect Sting Allergy (Alergi Sengatan Serangga)


Setiap orang yang disengat oleh serangga akan mengalami rasa sakit, pembengkakan, dan kemerahan di sekitar area yang disengat oleh serangga tersebut. Namun, mereka yang menderita alergi terhadap sengatan serangga dapat mengalami reaksi yang hebat atau bahkan mengancam jiwa. Gejala-gejala alergi terhadap sengatan serangga meliputi pembengkakan dan kemerahan yang meluas dari area sengatan atau gigitan serangga yang mungkin berlangsung selama satu minggu atau lebih, mual-mual, rasa lelah, dan demam derajat rendah. Pada kejadian yang langka, sengatan serangga mungkin menyebabkan reaksi alergi pada seluruh tubuh, yang disebut dengan anafilaksis. Gejala anafilaksis mungkin meliputi kesulitan bernafas, ruam kemerahan, bengkak, dan gatal pada kulit, pembengkakan pada wajah, tenggorokan, atau mulut, mengi/bengek atau kesulitan menelan, ansietas (rasa gelisah), denyut nadi yang cepat, kepala pusing, atau penurunan tekanan darah yang tajam. Bagi mereka yang mengalami reaksi alergi berat terhadap sengatan serangga, epinefrin harus diberikan segera setelah tersengat serangga untuk mencegah terjadinya situasi yang dapat mengancam jiwa.

Minimalisir paparan terhadap serangga dengan tidak mengenakan pakaian berwarna cerah serta kosmetik yang harum, selalu sedia insektisida (zat pembunuh serangga), menggunakan sepatu ketika keluar rumah, dan menjauhi tempat pembuangan sampah. Jika anda tersengat serangga dan berada dalam resiko anafilaksis, segera kunjungi IGD dan dapatkan suntikan epinefrin. Obat-obatan antihistamin oral (yang diminum) seperti Benadryl, mungkin dikonsumsi untuk mengurangi rasa gatal, pembengkakan, serta ruam kemerahan, pereda nyeri dan ice pack (kompres dingin) dapat digunakan untuk rasa nyeri yang disebabkan oleh sengatan. Perawatan ini tidak boleh digunakan untuk menggantikan epinefrin pada kasus anafilaksis, namun hanya dapat digunakan sebagai perawatan tambahan saja. Kadangkala, obat-obatan kortikosteroid digunakan untuk mengurangi pembengkakan dan inflamasi (peradangan).

Karena sebagian besar paparan bersifat insidental dan tidak selalu dapat diprediksi atau dicegah, allergy shots (suntikan anti alergi) merupakan perawatan yang direkomendasikan bagi mereka yang memiliki alergi terhadap sengatan serangga. Perawatan ini dapat membantu mencegah anafilaksis pada sengatan serangga berikutnya.

Serangga yang menyebabkan reaksi alergi meliputi berbagai jenis lebah (bee, hornet, wasp) dan semut api.

Latex Allergy (Alergi Rubber/Karet)


Sarung tangan karet merupakan produk pemicu alergi paling umum bagi mereka yang memiliki alergi terhadap latex. Namun, alergi terhadap latex juga dapat dipicu oleh kondom dan bahan latex pada peralatan medis. Gejala-gejala alergi terhadap latex meliputi ruam kulit, iritasi dan keluar air mata, hidung meler, bersin-bersin, batuk-batuk, mengi/bengek, sesak nafas, dan gatal pada kulit atau hidung. Reaksi alergi terhadap latex dapat bervariasi mulai dari kulit kemerahan dan gatal sampai dengan reaksi yang lebih serius yang disebut dengan anafilaksis, yang dapat menyebabkan kesulitan bernafas, ruam kemerahan, bengkak, dan gatal pada kulit, serta masalah saluran pencernaan yang terjadi secara mendadak.

Perawatannya termasuk melepaskan dan menghindari produk dari bahan latex. Untuk meredakan gejala-gejala alergi terhadap latex, akan diberikan obat-obatan antihistamin atau epinefrin. Untuk mencegah reaksi alergi terhadap latex, mereka yang sensitif harus menghindari produk-produk yang mengandung bahan latex.

Food Allergy (Alergi Makanan)


Susu, ikan, seafood, kacang-kacangan, gandum, dan telur merupakan makanan-makanan yang paling umum menyebabkan alergi. Reaksi alergi terhadap makanan biasanya terjadi dalam beberapa menit setelah mengkonsumsi makanan yang menjadi pemicu, dan gejalanya dapat meliputi asma, ruam kemerahan, bengkak, dan gatal pada kulit, muntah-muntah, diare, dan pembengkakan yang signifikan pada area di sekitar mulut. Perawatan terbaiknya adalah menghindari seluruh makanan pemicu alergi, namun ketika terpapar, pemberian antihistamin atau kortikosteroid adalah perawatan yang direkomendasikan. Pada situasi yang mengancam jiwa, suntikan epinefrin dibutuhkan untuk menghilangkan gejalanya.

Drug Allergy (Alergi Obat)


Beberapa orang memiliki alergi terhadap obat-obatan tertentu, seperti penisilin atau aspirin. Gejalanya dapat bervariasi mulai dari yang ringan sampai dengan yang mengancam jiwa dan dapat meliputi ruam kemerahan, bengkak, dan gatal pada kulit, mata gatal, hidung tersumbat, dan pembengkakan di mulut dan tenggorokan. Perawatan terbaiknya adalah menghindari seluruh obat-obatan pemicu alergi, namun ketika terpapar, pemberian antihistamin atau kortikosteroid adalah perawatan yang direkomendasikan. Untuk gejala batuk dan sumbatan pada saluran pernafasan, obat-obatan yang disebut dengan bronkodilator mungkin diresepkan untuk melebarkan saluran pernafasan. Untuk gejala yang lebih serius pemberian epinefrin mungkin dibutuhkan.


Comments