Home Gaya Hidup Kesehatan

Mata Silinder (Astigmatisme): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya


Pernah nggak sih kamu merasa penglihatan tiba-tiba kabur, berbayang, atau susah fokus saat membaca tulisan kecil? Kalau iya, bisa jadi itu merupakan tanda-tanda mata silinder atau yang dalam dunia medis dikenal dengan istilah astigmatisme. Mata silinder adalah salah satu jenis kelainan refraksi di mana bentuk kornea atau lensa mata tidak bulat sempurna. Alih-alih berbentuk bulat seperti bola, kornea justru berbentuk lebih oval. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata tak bisa difokuskan ke satu titik di retina, dan penglihatan pun jadi terganggu.

Menurut data dari jurnal Medula (Volume 13, 2023) yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, astigmatisme menyumbang sekitar 13% dari total kesalahan refraksi pada mata manusia. Sementara itu, prevalensi astigmatisme di Indonesia dilaporkan mencapai 47,2% pada usia dewasa, dan angka ini melonjak hingga 77% pada kelompok usia di atas 50 tahun. Secara global, meta analisis menunjukkan estimated pooled prevalence astigmatisme sebesar 14,9% pada anak dan 40,4% pada dewasa, dengan prevalensi di Asia Tenggara sebesar 44,78% untuk populasi dewasa.

Menariknya, banyak orang tidak sadar kalau mereka memiliki mata silinder, terutama anak-anak. Mereka mungkin hanya merasakan "kelelahan mata" atau "sering pusing" tanpa tahu penyebab sebenarnya.

Penyebab Mata Silinder 




Secara umum, penyebab utama astigmatisme adalah kelainan bentuk kornea atau lensa mata yang tidak memiliki kelengkungan sempurna. Normalnya, kornea mata berbentuk bulat simetris seperti bola basket. Tapi pada penderita mata silinder, kornea lebih mirip bentuk bola rugby, lebih oval dan tidak rata.

Berikut beberapa faktor yang dapat memicu atau meningkatkan risiko mata silinder:

1. Faktor Genetik (Keturunan)

Faktor keturunan adalah penyebab paling dominan. Kalau orang tua kamu punya astigmatisme, kemungkinan besar kamu juga berisiko mengalaminya. Banyak kasus mata silinder sudah muncul sejak lahir dan berkembang seiring waktu. Hingga saat ini, dugaan kuat menyebutkan bahwa kelainan ini memang terkait erat dengan faktor keturunan.

2. Cedera atau Trauma pada Mata

Cedera fisik pada kornea, misalnya akibat benturan, goresan, atau kecelakaan bisa mengubah bentuk kornea dan memicu astigmatisme. Selain itu, bekas operasi mata seperti operasi katarak juga bisa memengaruhi kelengkungan kornea.

3. Keratokonus

Keratokonus adalah kondisi langka di mana kornea menipis secara progresif dan membentuk kerucut. Kondisi ini menyebabkan astigmatisme yang semakin parah dari waktu ke waktu dan membutuhkan penanganan khusus.

4. Kebiasaan Buruk Sehari-hari

Meskipun belum ada bukti ilmiah yang sangat kuat, beberapa ahli menduga bahwa kebiasaan menatap layar gadget terlalu lama, membaca dalam ruangan dengan penerangan yang buruk, atau menonton TV terlalu dekat dapat meningkatkan risiko terjadinya astigmatisme. Riset yang dipublikasikan di jurnal Ophthalmic and Physiological Optics menunjukkan bahwa anak yang menghabiskan lebih dari 2 jam per hari di depan layar memiliki risiko 10,9 kali lebih besar mengalami miopia dan juga menunjukkan peningkatan astigmatisme refraktif.

5. Faktor Lain

Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko astigmatisme, termasuk:

  • Infeksi yang menyebabkan jaringan parut pada kornea
  • Kelahiran prematur atau kondisi stunting
  • Adanya benjolan pada kelopak mata yang menekan kornea
  • Sindrom Down

Gejala Mata Silinder




Gejala mata silinder bisa sangat bervariasi, tergantung tingkat keparahannya. Pada kasus mata silinder yang masih tergolong ringan, penderitanya bahkan bisa jadi belum merasakan gejala apapun. Namun seiring berjalannya waktu, gejalanya bisa semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.

Berikut gejala umum mata silinder yang perlu kamu waspadai:

  • Penglihatan mulai kabur atau berbayang, baik saat melihat objek dekat maupun jauh
  • Mata cepat lelah dan tegang, terutama setelah membaca atau menatap layar dalam waktu lama
  • Sering sakit kepala, khususnya di area dahi dan pelipis
  • Kesulitan melihat di malam hari, termasuk saat mengemudi karena silau terhadap cahaya lampu
  • Sering menyipitkan mata untuk mencoba melihat lebih jelas
  • Kesulitan membaca tulisan kecil atau melihat detail halus

Dr. Hani Faradis, Sp.M dari National Eye Center (NEC) menjelaskan bahwa orang dengan mata silinder sering mengalami penglihatan berbayang, pusing, dan cenderung memicingkan mata sehingga aktivitas sehari-hari menjadi terhambat.

Pada anak-anak, gejala mata silinder bahkan seringkali tidak disadari karena mereka belum bisa mendeskripsikan gangguan penglihatan yang dialaminya. Maka, jika anak sering mengeluhkan pusing, kesulitan fokus saat belajar, atau sering mendekatkan buku ke wajah, segera periksakan ke dokter mata.

Jenis-Jenis Mata Silinder 

Tidak semua mata silinder itu sama. Berdasarkan jurnal Medula (2023), astigmatisme bisa diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis:

1. Berdasarkan Letak Kelainan

  • Astigmatisme Kornea - kelainan terjadi pada kornea (paling umum)
  • Astigmatisme Lentikular - kelainan terjadi pada lensa mata
  • Astigmatisme Retinal - kelainan terjadi pada retina (sangat jarang)

2. Berdasarkan Meridian

  • With-the-rule astigmatisme - meridian vertikal lebih curam, umum pada usia muda ≤40 tahun
  • Against-the-rule astigmatisme - meridian horizontal lebih curam, umum pada usia lanjut
  • Astigmatisme oblik - meridian curam berada di posisi miring

3. Berdasarkan Kombinasi Refraksi

  • Astigmatisme simpel - satu meridian emetrop (normal), satu lagi miopia atau hipermetropi
  • Astigmatisme compound - kedua meridian mengalami kelainan sejenis
  • Astigmatisme mixed - satu meridian miopia, satu lagi hipermetropi

Memahami jenis astigmatisme yang kamu alami sangat penting karena setiap jenis memerlukan pendekatan koreksi yang berbeda.

Diagnosis Mata Silinder: Bagaimana Cara Mendeteksinya?

Untuk memastikan apakah kamu benar-benar punya mata silinder atau tidak, dokter mata akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Berikut prosedur diagnosis yang umum dilakukan:

  • Tes Ketajaman Penglihatan (Visual Acuity Test) - Kamu akan diminta membaca huruf atau angka pada chart dari jarak tertentu untuk mengukur ketajaman penglihatan.
  • Tes Refraksi (Refraction Test) - Dokter menggunakan alat dengan berbagai lensa untuk menentukan ukuran silinder dan koreksi yang dibutuhkan.
  • Keratometri - Mengukur kelengkungan permukaan kornea untuk mendeteksi ketidakrataan yang menyebabkan astigmatisme.
  • Topografi Kornea - Pemeriksaan lebih detail yang memetakan seluruh permukaan kornea secara 3D.
  • Retinoskopi - Dokter menggunakan cahaya untuk mengamati refleks retina dan menentukan kelainan refraksi.
  • Uji Kipas Astigmatik dan Jackson Cross Cylinder - Pemeriksaan spesifik untuk menentukan aksis dan kekuatan silinder secara presisi.

Pemeriksaan mata rutin sangat dianjurkan, terutama untuk anak-anak usia sekolah. Studi menyebutkan bahwa astigmatisme diatas 2,00 D (Dioptri) yang tidak dikoreksi pada balita dapat berdampak langsung kemampuan kognitif, bahasa, dan motorik halusnya. Deteksi dini bisa mencegah komplikasi lebih lanjut seperti ambliopia (mata malas) yang bisa memengaruhi perkembangan penglihatan secara permanen.

Cara Mengobati dan Mengatasi Mata Silinder




Kabar baiknya, meskipun mata silinder tak bisa sembuh dengan sendirinya, ada berbagai metode yang terbukti efektif untuk mengoreksi penglihatan. Berikut pilihan pengobatan yang tersedia:

1. Kacamata Silinder

Menggunakan kacamata silinder merupakan solusi paling umum. Lensa kacamata silinder dirancang khusus untuk mengompensasi kelengkungan kornea yang tidak rata. Kacamata tidak menyembuhkan astigmatisme, tapi sangat efektif untuk memperbaiki kualitas penglihatan selama digunakan. Ukuran lensa biasanya akan disesuaikan dengan derajat astigmatisme masing-masing individu.

2. Lensa Kontak Toric

Buat kamu yang tidak terlalu nyaman menggunakan kacamata, lensa kontak toric bisa jadi alternatif. Lensa ini dirancang khusus untuk mata silinder dengan kemampuan membelokkan cahaya sesuai kebutuhan koreksi. Semakin parah silinder yang kamu miliki, biasanya dokter akan merekomendasikan lensa dengan bahan yang lebih rigid untuk hasil optimal.

3. Operasi LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis)

LASIK adalah prosedur bedah refraktif yang menggunakan laser untuk mengubah bentuk kornea. Menurut SILC Lasik Center, tingkat keberhasilan LASIK untuk mengatasi astigmatisme kini jadi semakin tinggi berkat teknologi yang terus berkembang. Yang bisa diperbaiki oleh LASIK adalah jenis astigmatisme kornea, yakni jenis mata silinder yang lebih umum daripada astigmatisme lentikular. Prosedur ini bisa memberikan hasil yang permanen, dan beberapa studi menyebutkan tingkat keberhasilannya mencapai hingga 96%.

4. Operasi PRK dan SMILE

Selain LASIK, ada juga prosedur PRK (Photorefractive Keratectomy) dan SMILE (Small Incision Lenticule Extraction) yang bekerja dengan prinsip serupa. PRK cocok untuk pasien dengan kornea yang terlalu tipis untuk LASIK, sementara SMILE menggunakan sayatan minimal sehingga waktu pemulihannya lebih cepat.

5. Orthokeratology (Ortho-K)

Metode ini menggunakan lensa kontak khusus yang dipakai saat tidur untuk membentuk kembali kornea secara sementara. Hasilnya, kamu bisa menikmati penglihatan yang lebih jelas di siang hari tanpa kacamata atau lensa kontak. Meski efeknya bersifat sementara, Ortho-K cukup populer terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

6. Implantasi Lensa Intraokular (IOL) Toric

Pada kasus tertentu, misalnya mata silinder yang disebabkan oleh katarak dokter bisa memasang lensa intraokular toric selama operasi katarak. Lensa ini menggantikan lensa alami yang rusak dan sekaligus mengoreksi astigmatisme.

Tips Menjaga Kesehatan Mata dan Mencegah Mata Silinder Bertambah Parah

Meskipun mata silinder tidak bisa sepenuhnya dicegah (terutama yang disebabkan oleh faktor genetik), ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk menjaga kesehatan mata, seperti:

  • Membatasi screen time - Kamu bisa Menerapkan aturan 20-20-20: yaitu setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan memandang objek berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter).
  • Pastikan pencahayaan yang cukup saat membaca atau bekerja di depan komputer.
  • Rutin periksa mata - Idealnya setiap 1-2 tahun sekali, terutama kalau kamu sudah memakai kacamata atau lensa kontak.
  • Lakukan senam mata sederhana - Gerakkan bola mata ke kiri-kanan, atas-bawah, dan memutar untuk membantu mengurangi ketegangan otot mata.
  • Konsumsi makanan bergizi yang kaya vitamin A, C, E, dan omega-3 seperti wortel, bayam, ikan salmon, dan telur.
  • Hindari mengucek mata terlalu keras karena bisa memengaruhi bentuk kornea.
  • Gunakan kacamata pelindung saat melakukan aktivitas yang berisiko melukai mata.

Mata silinder atau astigmatisme adalah kelainan refraksi yang sangat umum terjadi dan bisa menyerang siapa saja mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Dengan prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia (mencapai 47,2% pada dewasa), penting bagi kamu untuk mengenali gejala-gejala astigmatisme sejak dini. Meski mata silinder tak bisa sembuh secara alami, berbagai metode koreksi mulai dari menggunakan kacamata, lensa kontak toric, hingga operasi LASIK terbukti cukup efektif untuk membantu mengembalikan kejernihan penglihatan.

Yang terpenting adalah, jangan mengabaikan tanda-tanda awal seperti penglihatan yang mulai kabur, sakit kepala, atau mata terasa cepat lelah. Segera konsultasikan ke dokter mata untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat jika kamu atau anggota keluarga yang lain mengalami berbagai gejala tersebut.

Blogger Serabutan
Dear GOD, Thank you so much for all Your stupid blessing to stupid people like me :)
You might also like...
Komentar
Additional JS