Mengenal Sejarah dan Tradisi Perayaan Imlek
Kamu tentu sudah sering melihat pernak-pernik berwarna merah, lampion, hingga tarian liong atau barongsai saat perayaan Imlek. Namun, tahukah kamu bahwa setiap detail dalam tradisi imlek memiliki makna dan filosofi mendalam yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ribuan tahun? Perayaan Tahun Baru Imlek, yang dikenal juga dengan sebutan Sincia dalam bahasa Hokkien, merupakan salah satu momen paling penting dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, perayaan Imlek telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat multikultural kita. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Imlek sejatinya telah diakui sebagai salah satu hari raya melalui Penetapan Pemerintah Nomor 2/UM/1946. Namun, pada era Orde Baru, perayaan Imlek mengalami pembatasan ketat melalui Instruksi Presiden (Inpres) No 14 Tahun 1967 karena masalah politik. Kebijakan ini membatasi (bukan melarang) masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek hanya di tempat-tempat tertutup, tanpa atraksi publik seperti barongsai atau musik Mandarin.
Untungnya, era Reformasi membawa perubahan yang signifikan. Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan berani mencabut Inpres tersebut melalui Keppres No 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000. Kemudian, Presiden Megawati Soekarnoputri melanjutkan kebijakan ini dengan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres No 19 Tahun 2002. Sejak saat itu, tradisi imlek dapat dirayakan secara meriah dan terbuka di seluruh Indonesia, sekaligus menjadi bukti nyata komitmen negara terhadap keberagaman budaya.
Sejarah dan Asal-Usul Tradisi Imlek
Sejarah imlek dimulai dari zaman dahulu kala ketika masyarakat Tiongkok mayoritas masih bekerja sebagai petani. Pada era itu, perayaan tahun baru bukan hanya tentang perayaan ritual keagamaan semata, tetapi juga terkait erat dengan siklus pertanian dan harapan akan panen yang berlimpah di tahun-tahun mendatang. Inilah yang membuat Imlek menjadi festival yang sangat bermakna bagi kehidupan masyarakat Tiongkok kuno, dan nilai-nilai tersebut terus dipertahankan hingga zaman modern sekarang.
Meskipun sulit dipastikan kapan tepatnya Imlek bermula, para sejarawan percaya bahwa perayaan ini sudah dimulai sejak masa Dinasti Shang (1600-1046 SM). Pada era Dinasti Shang, imlek dimulai dengan upacara pengorbanan sederhana untuk menghormati dewa dan roh leluhur pada awal atau akhir tahun. Masyarakat pada zaman itu belum mengenal istilah "Imlek" seperti yang kita kenal sekarang, melainkan ritual keagamaan yang bertujuan untuk meminta berkat dan keberuntungan bagi hasil panen mereka.
Kemudian pada masa Dinasti Zhou (1046-256 SM), tradisi imlek mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pada era ini, istilah "Nian" (tahun) untuk pertama kalinya muncul dalam catatan sejarah. Masyarakat Zhou memperkuat tradisi dengan memberikan persembahan kurban kepada leluhur atau dewa sebagai bentuk ucapan syukur dan permohonan berkat untuk panen yang melimpah.
Titik balik penting dalam sejarah imlek terjadi pada masa Dinasti Han (202 SM - 220 M). Pada periode ini, Kaisar Wu menetapkan bahwa hari pertama bulan pertama dalam kalender lunar Tionghoa menjadi tanggal resmi perayaan Tahun Baru Imlek, pada tahun 104 SM.
Penetapan ini bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan. Kaisar Wu menetapkan waktu ini dengan perhitungan astronomi yang cermat, memastikan bahwa Imlek jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik musim dingin. Kaisar Wu ingin memastikan bahwa perayaan Imlek sesuai dengan siklus pertanian masyarakat Tiongkok yang pada umumnya masih menggantungkan kehidupan mereka pada hasil panen. Dengan demikian, Imlek menjadi momen yang tepat bagi para petani untuk memulai musim tanam baru.
Sejarah perayaan imlek juga tidak dapat dilepaskan dari cerita legendaris tentang Monster Nian (å¹´ atau Nianshou å¹´å…½). Menurut cerita turun-temurun yang telah diwariskan selama berabad-abad, dahulu kala hiduplah seekor makhluk buas bernama Nian yang memiliki kepala panjang dan tanduk yang sangat tajam dan menakutkan. Dalam beberapa versi legenda, Nian digambarkan sebagai monster yang tinggal di kedalaman laut.
Monster Nian ini memiliki kebiasaan yang mengerikan: setiap malam tahun baru (Chúxī atau "malam pergantian tahun"), makhluk tersebut akan keluar dari tempat persembunyiannya dan datang ke desa-desa untuk memangsa manusia, ternak, dan hasil pertanian warga. Bayangkan betapa takutnya penduduk desa pada masa itu. Setiap tahun, ketika musim semi tiba dan perayaan tahun baru dimulai, mereka harus mengungsi ke pegunungan untuk menyelamatkan diri dari serangan monster yang ganas ini.
Keadaan yang menakutkan ini terus berlanjut hingga suatu hari datanglah seorang lelaki tua berambut putih dengan kulit kemerahan. Berbeda dengan penduduk desa lainnya yang memilih mengungsi, kakek tua bijaksana ini menolak untuk bersembunyi. Sebaliknya, dia memutuskan untuk menghadapi Monster Nian dengan cara yang sangat unik dan cerdas.
Kakek tua itu melakukan beberapa hal yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi perayaan Imlek:
- Menempelkan kertas merah di pintu dan jendela rumahnya
- Membakar bambu hingga mengeluarkan suara berderak keras yang memekakkan telinga (cikal bakal petasan dan kembang api modern)
- Menyalakan lilin dan lentera di dalam rumah untuk menciptakan cahaya yang terang benderang
- Mengenakan pakaian merah dari kepala hingga kaki
Ketika Monster Nian muncul pada malam itu, makhluk tersebut terkejut dan ketakutan dengan apa yang dilihatnya. Suara keras dari bambu yang terbakar, cahaya terang dari lilin dan lentera, serta warna merah yang mencolok mata, semuanya membuat Nian lari terbirit-birit tanpa pernah mengganggu desa itu lagi.
Keesokan paginya, penduduk desa terkejut menemukan bahwa kakek itu masih hidup, rumah-rumah mereka tidak rusak, ternak tidak dimangsa, dan hasil panen tetap aman. Sejak peristiwa bersejarah ini, masyarakat Tiongkok mulai meniru tradisi yang dilakukan kakek tua bijaksana tersebut setiap malam tahun baru. Inilah awal mula dari berbagai tradisi Imlek yang masih kita kenal dan jalankan sampai sekarang.
Penting untuk diketahui bahwa dalam bahasa Tionghoa, karakter "Nian" (年) memiliki makna ganda, yakni tahun dan sekaligus monster Nian. Itulah mengapa perayaan Imlek dalam bahasa Tionghoa disebut "Guò Nian" (过年), yang berarti "merayakan tahun baru" dan "mengusir Nian". Hal ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Tiongkok kuno, yaitu mengusir hal-hal buruk dari tahun yang lalu dan menyambut tahun baru dengan penuh harapan dan keberuntungan.
Berbagai Tradisi dalam Perayaan Imlek
Berbagai tradisi yang dilakukan selama perayaan Imlek memiliki makna filosofis yang mendalam. Mulai dari warna yang dipilih hingga hidangan yang disajikan, semuanya adalah representasi dari harapan, doa, dan semangat untuk memulai tahun baru dengan penuh berkat dan keberuntungan. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas setiap tradisi tersebut satu-persatu.
1. Membersihkan Rumah
Salah satu tradisi paling fundamental dalam perayaan imlek adalah membersihkan rumah secara menyeluruh sebelum tahun baru tiba. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah Ruui Nian dalam bahasa Tionghoa. Jauh sebelum malam pergantian tahun, keluarga-keluarga akan sibuk membersihkan setiap sudut rumah mereka, mulai dari lantai, dinding, jendela, hingga barang-barang yang tersimpan di lemari.
Mengapa tradisi ini begitu penting dalam tradisi imlek? Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, membersihkan rumah melambangkan upaya untuk "mengusir" nasib buruk dan energi negatif yang tertinggal dari tahun sebelumnya. Dengan membersihkan rumah, kamu secara simbolis sedang mempersiapkan diri untuk menerima berkat dan keberuntungan baru di tahun yang akan datang. Rumah yang bersih dan rapi diyakini akan menarik energi positif dan keberuntungan.
Menariknya, setelah perayaan Imlek dimulai, masyarakat Tionghoa akan menghentikan kegiatan membersihkan rumah. Alasan di balik tradisi unik ini adalah kepercayaan bahwa keberuntungan yang telah masuk ke dalam rumah harus dijaga agar tidak tersapu keluar. Jadi, setelah Imlek dimulai, rangkaian kegiatan membersihkan dihentikan hingga perayaan benar-benar selesai.
2. Bagi-bagi Angpao
Jika ada satu tradisi imlek yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak, tradisi itu sudah barangtentu adalah tradisi bagi-bagi angpao. Angpao adalah amplop berwarna merah yang berisi uang, diberikan oleh orang-orang yang sudah menikah atau yang dianggap telah mencapai tahap tertentu dalam hidup kepada mereka yang lebih muda atau yang belum menikah.
Lebih dari sekadar pemberian uang, tradisi bagi-bagi angpao memiliki makna filosofis yang mendalam dalam tradisi imlek. Amplop merah dipercayai sebagai simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Ketika seseorang memberikan angpao, mereka tidak hanya memberikan uang, tetapi juga mendoakan penerimanya agar mendapatkan berkat, kesuksesan, dan kebahagiaan di tahun yang baru.
Orang-orang yang memberikan angpao juga biasanya menyampaikan ucapan-ucapan baik dan harapan untuk penerima angpao. Mereka berharap bahwa dengan angpao ini, penerima dapat mencapai cita-cita, mengalami kemajuan, terutama dalam hal finansial. Dalam kepercayaan Tionghoa, warna merah yang digunakan pada amplop angpao diyakini dapat membawa keberuntungan dan mengusir hal-hal jahat.
Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai penting dalam tradisi imlek yakni berbagi, memberi berkat kepada orang lain, dan menyebarkan kebahagiaan kepada sesama. Kini, dengan perkembangan teknologi, tradisi pemberian angpao juga ikut berkembang. Banyak orang yang kini memberikan angpao digital melalui transfer uang, tetapi esensi dari tradisi ini tetap terjaga yakni membawa doa dan harapan untuk keberuntungan bersama.
3. Mengenakan Pakaian Baru
Dalam tradisi imlek, mengenakan pakaian baru pada hari pertama Tahun Baru Imlek memiliki makna yang sangat spesifik. Pakaian baru ini bukan sekadar persiapan untuk tampil rapi di hadapan keluarga dan tamu yang datang, tetapi melambangkan pelepasan diri dari masa lalu dan pembukaan halaman baru dalam hidup.
Dengan mengenakan pakaian baru, kamu secara simbolis meninggalkan semua hal negatif, kesalahan, dan pengalaman buruk yang terjadi di tahun sebelumnya. Pakaian baru mewakili semangat dan keinginan untuk memulai hidup dengan cara yang lebih baik dan positif di tahun yang baru. Tradisi ini menunjukkan optimisme dan harapan yang tinggi terhadap masa depan.
Dalam tradisi imlek modern, pilihan warna pakaian juga menjadi perhatian. Warna merah dan emas menjadi pilihan favorit karena diyakini membawa keberuntungan dan kemakmuran. Namun, ada pantangan tertentu, masyarakat Tionghoa menghindari warna putih dan hitam karena dianggap membawa makna yang tidak sesuai dengan semangat perayaan yang penuh kegembiraan.
4. Warna Merah
Tidak ada warna lain yang lebih ikonik dengan tradisi imlek selain warna merah. Dari lampion yang menghiasi jalan-jalan, hiasan rumah, hingga amplop angpao, warna merah mendominasi setiap aspek perayaan. Namun, mengapa merah menjadi warna utama dalam tradisi imlek? Jawabannya terletak pada filosofi dan legenda kuno yang sudah kita bahas tadi.
Dalam budaya Tionghoa, warna merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran sejati. Warna ini dianggap membawa energi positif yang kuat dan mampu mengusir hal-hal buruk serta roh jahat. Akar dari tradisi ini berasal dari legenda Tiongkok kuno tentang makhluk mistis bernama Nian, seekor makhluk buas yang konon muncul setiap akhir tahun untuk meneror desa-desa dan menyerang penduduk.
Menurut legenda, Nian takut pada warna merah dan suara bising. Oleh karena itu, masyarakat kuno mulai menghiasi rumah mereka dengan warna merah, menyalakan petasan, dan membunyikan gong untuk mengusir Nian dari desa mereka. Tradisi penggunaan warna merah dalam tradisi imlek terus berlanjut hingga hari ini sebagai warisan dari cerita ini.
Selain dari perspektif kepercayaan, dalam filosofi Tiongkok tradisional, merah juga melambangkan elemen api, salah satu dari lima elemen penting (air, api, kayu, logam, dan tanah). Api dianggap sebagai sumber energi transformasi dan kehidupan baru. Dengan menggunakan warna merah, masyarakat Tionghoa mengundang energi api ini untuk membawa perubahan positif dan semangat baru di tahun yang akan datang.
5. Pertunjukan Barongsai dan Liong
Jika kamu pernah melihat pertunjukan barongsai atau liong saat perayaan Imlek, kamu pasti akan terpesona dengan keindahan gerakan, energi, dan semangat yang ditampilkan. Barongsai adalah tarian singa yang dilakukan oleh dua orang penari, sementara liong adalah tarian naga yang melibatkan lebih banyak penari. Keduanya merupakan bagian integral dari tradisi imlek di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, barongsai dan liong bukan sekadar bentuk seni pertunjukan, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam. Tarian ini dipercaya dapat membawa keberuntungan, mengusir roh jahat dan energi negatif, serta membawa kesuksesan dan kemakmuran untuk tahun yang akan datang. Setiap gerakan dalam tarian ini dirancang dengan tujuan untuk menyebarkan energi positif kepada para penonton.
Pertunjukan barongsai dan liong dalam tradisi imlek di Indonesia telah berkembang menjadi sebuah fenomena budaya yang unik. Tidak hanya dirayakan di tempat-tempat ibadah Tionghoa seperti klenteng, tetapi juga di mal-mal, pusat-pusat keramaian, dan bahkan di jalan-jalan utama kota. Anak-anak dan orang dewasa sama-sama menikmati energi dan semangat yang dibawa oleh pertunjukan ini, menjadikan barongsai dan liong sebagai jembatan budaya yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
6. Menyalakan Petasan dan Kembang Api
Salah satu tradisi yang paling meriah dan menggelegar dalam tradisi imlek adalah menyalakan petasan dan kembang api. Suara ledakan yang dahsyat dan cahaya yang cemerlang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Imlek di berbagai tempat. Namun, tradisi ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi memiliki makna filosofis dan spiritual yang kaya.
Menurut kepercayaan Tionghoa yang telah ada selama berabad-abad, petasan dan kembang api memiliki kekuatan untuk mengusir Nian, makhluk jahat yang ditakuti oleh masyarakat Tionghoa kuno. Karena Nian sangat takut pada suara bising dan cahaya terang, menyalakan petasan dianggap sebagai cara efektif untuk melindungi desa dan keluarga dari gangguan roh jahat. Tradisi ini terus dilestarikan hingga kini sebagai simbol pengusiran hal-hal negatif dan penyambutan keberuntungan.
Selain itu, suara petasan yang keras juga dipercaya dapat "memanggil" energi positif dan keberuntungan untuk memasuki rumah dan desa. Dalam tradisi imlek, ledakan petasan dianggap sebagai bentuk komunikasi dengan alam semesta dan para dewa untuk memberikan berkat dan perlindungan kepada masyarakat di tahun yang baru.
7. Sembahyang Leluhur
Bagi mereka yang menjalankan tradisi keagamaan, terutama masyarakat Tionghoa yang memeluk agama Konghucu, sembahyang leluhur merupakan bagian yang sangat penting dalam tradisi imlek. Tradisi ini dilakukan sebelum perayaan Imlek dimulai dan juga selama rangkaian perayaan berlangsung.
Sembahyang leluhur bertujuan untuk menghormati, mendoakan, dan berterima kasih kepada para nenek moyang yang telah mendahului. Dalam kepercayaan Tionghoa, leluhur diyakini tetap memiliki hubungan dengan keturunan mereka dan dapat memberikan berkat serta perlindungan. Ritual sembahyang ini biasanya dilakukan di klenteng (rumah ibadah Tionghoa) atau di altar rumah yang telah disiapkan khusus.
Selama sembahyang, keluarga akan menyalakan dupa dan lilin sebagai tanda penghormatan, serta menyajikan berbagai persembahan makanan seperti buah-buahan, daging, kue, dan hidangan khusus lainnya. Persembahan ini bukan hanya bersifat material, tetapi merupakan ungkapan kasih sayang dan rasa terima kasih kepada leluhur. Melalui ritual sembahyang leluhur dalam tradisi imlek, masyarakat Tionghoa menjaga koneksi spiritual dengan generasi sebelumnya dan memastikan bahwa nilai-nilai keluarga tetap hidup dan dihormati.
8. Menyajikan Makanan Khas Imlek
Dalam tradisi imlek, makanan khas yang disajikan terdiri dari berbagai jenis makanan dengan makna filosofis yang spesifik. Ikan utuh, misalnya, melambangkan kemakmuran dan kelimpahan karena kata "ikan" dalam bahasa Mandarin juga bermakna "kelebihan". Mie panjang umur melambangkan panjang umur dan kesehatan. Bakso atau bola daging disajikan untuk melambangkan kebersamaan dan kesatuan keluarga. Kue keranjang yang berlapis-lapis melambangkan rezeki yang berlapis-lapis dan terus bertambah.
Ada juga tradisi menarik seputar cara menyantap ikan dalam tradisi imlek. Ikan tidak boleh dibalik untuk mengambil daging bagian bawahnya. Alasannya adalah kepercayaan bahwa membalik ikan dapat melambangkan kecelakaan atau nasib yang terbalik. Sebagai gantinya, daging ikan bagian bawah harus disimpan untuk dimakan di hari berikutnya, yang melambangkan kelestarian keberuntungan.
9. Cap Go Meh
Setelah merayakan Imlek selama 15 hari, perayaan mencapai puncaknya pada malam ke-15, yakni perayaan khusus yang disebut Cap Go Meh. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang berarti "malam ke-15", di mana Cap Go artinya lima belas dan Meh berarti malam. Dalam bahasa Mandarin, perayaan ini dikenal sebagai Yuanxiao Jie atau Festival Lampion.
Cap Go Meh bertepatan dengan munculnya bulan purnama pertama setelah Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, bulan purnama yang bersinar terang dan bulat sempurna dianggap sebagai simbol keberuntungan, kesuksesan, dan kelengkapan. Cap Go Meh bukan hanya menandakan akhir dari rangkaian perayaan Imlek, tetapi juga merupakan momen refleksi, syukur, dan pelepasan hal-hal buruk dari tahun sebelumnya.
Selama Cap Go Meh, masyarakat akan melakukan berbagai ritual unik yang kaya dengan makna. Mereka menyalakan lampion berwarna-warni dan mendekorasinya dengan gambar-gambar simbol keberuntungan seperti ikan atau karakter Fu (yang berarti kebahagiaan). Pertunjukan barongsai dan liong juga menjadi puncak dari perayaan Cap Go Meh. Selain itu, makanan khas yang disajikan adalah tangyuan atau ronde bola-bola ketan berisi kacang atau wijen yang melambangkan kebulatan tekad, kebersamaan, dan keharmonisan keluarga.
10. Dekorasi Rumah
Selain membersihkan rumah, tradisi imlek juga melibatkan dekorasi rumah yang meriah dan penuh warna. Menjelang Imlek, keluarga-keluarga akan mendekorasi rumah mereka dengan berbagai ornamen dan hiasan khas Imlek yang berfungsi tidak hanya sebagai penghias, tetapi juga sebagai simbol keberuntungan.
Lampion merah dan kuning menjadi dekorasi wajib yang akan menghiasi setiap sudut rumah dan halaman. Lampion-lampion ini bukan hanya menyala saat malam, tetapi juga menambah suasana hangat dan meriah di siang hari. Hiasan lainnya termasuk kertas-kertas berisi kata-kata baik dan harapan (seperti karakter "Fu" yang berarti kebahagiaan), bunga meihua (bunga plum) yang melambangkan ketahanan dan keindahan, serta hiasan naga dan ikan yang merupakan simbol kemakmuran.
Rumah yang didekorasi dengan baik dalam tradisi imlek diyakini akan menarik energi positif dan keberuntungan. Proses dekorasi ini juga menjadi aktivitas kebersamaan keluarga yang bermakna, di mana setiap anggota keluarga turut terlibat dalam memperindah rumah mereka. Dengan demikian, rumah bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi berubah menjadi istana keberuntungan yang penuh dengan semangat dan doa untuk tahun yang akan datang.
Makna Mendalam di Balik Tradisi Imlek
Tradisi imlek bukan sekadar perayaan yang meriah dan penuh warna. Di balik setiap ritual, simbol, dan kegiatan yang dilakukan, terdapat makna mendalam yang telah diwariskan oleh para leluhur selama berabad-abad. Untuk memahami tradisi imlek secara utuh, penting bagi kamu untuk menggali lebih dalam tentang filosofi dan nilai-nilai yang tersembunyi di dalamnya.
Pertama, tradisi imlek adalah momen untuk berkumpul dengan keluarga dan memperkuat ikatan emosional. Dalam masyarakat modern yang serba sibuk, Imlek memberikan kesempatan langka untuk semua anggota keluarga, baik yang tinggal dekat maupun jauh, untuk berkumpul dan berbagi momen berharga bersama. Berkumpul dengan keluarga dianggap sebagai bentuk ungkapan syukur atas berkah dan kebersamaan yang telah dijalani.
Kedua, tradisi imlek adalah waktu untuk melakukan refleksi diri yang mendalam. Sebelum memasuki tahun yang baru, masyarakat Tionghoa akan merenungkan perjalanan hidup mereka selama satu tahun terakhir. Mereka akan mencatat kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, hal-hal yang telah mereka capai, dan pelajaran yang telah dipelajari. Dengan refleksi ini, mereka berkomitmen untuk memperbaiki diri dan memulai tahun baru dengan cara hidup yang lebih baik.
Ketiga, tradisi imlek adalah perayaan pembaruan dan transformasi. Setiap ritual dalam tradisi imlek, mulai dari membersihkan rumah hingga mengenakan pakaian baru, melambangkan upaya untuk meninggalkan masa lalu dan memulai halaman baru yang lebih cerah. Filosofi pembaruan ini tercermin dalam nilai-nilai seperti harapan, optimisme, dan kepercayaan akan masa depan yang lebih baik.

