Berapa Kadar Kolesterol Normal Pada Orang Dewasa?
Kadar kolesterol normal pada orang dewasa umumnya ditandai dengan kolesterol total di bawah 200 mg/dL, LDL di bawah 100 mg/dL, trigliserida di bawah 150 mg/dL, dan HDL yang cukup tinggi. Meski demikian, angka yang ideal untuk setiap orang dapat berbeda. Mengapa? Karena dokter, umumnya juga akan mempertimbangkan usia, riwayat keluarga, tekanan darah, diabetes, kebiasaan merokok, serta risiko penyakit jantung dan stroke secara keseluruhan.
Perlu dicatat, bahwa kolesterol sebenarnya bukanlah zat yang sepenuhnya buruk. Tubuh bahkan membutuhkan zat ini untuk menjalankan berbagai fungsinya seperti memproduksi hormon, membentuk struktur sel tubuh dan lain sebagainya. Masalah baru akan muncul, saat kadar LDL yang berlebih justru mendorong pembentukan plak di dalam pembuluh darah.
Namun, kadar kolesterol yang tinggi jarang menunjukkan gejala yang jelas. Kamu bisa saja merasa sangat sehat meskipun kadar LDL sudah berada di atas batas yang dianjurkan. Karena itu, pemeriksaan darah secara berkala menjadi satu-satunya cara yang dapat diandalkan untuk mengetahui kadar Kolesterol dan menentukan apakah kamu memerlukan perubahan gaya hidup hingga pengobatan atau tidak.
Kenali Kadar Kolesterol Normal
Pemeriksaan Kolesterol tidak hanya menghasilkan satu angka saja. Tes yang disebut profil lipid atau lipid profile biasanya akan mengukur kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida. Beberapa hasil laboratorium bahkan turut mencantumkan kadar non-HDL, yaitu kolesterol total dikurangi HDL.
Berikut gambaran umum kadar yang dianggap sehat untuk kebanyakan orang dewasa:
| Komponen pemeriksaan | Kadar yang dianjurkan |
| Kolesterol total | Kurang dari 200 mg/dL |
| LDL | Kurang dari 100 mg/dL |
| Non-HDL | Kurang dari 130 mg/dL |
| HDL pria dewasa | Lebih dari 40 mg/dL; 60 mg/dL atau lebih dinilai optimal |
| HDL wanita dewasa | Lebih dari 50 mg/dL; 60 mg/dL atau lebih dinilai optimal |
| Trigliserida | Kurang dari 150 mg/dL |
Batas tersebut merupakan angka yang secara umum digunakan, namun bukan angka yang mutlak berlaku bagi semua orang. Seseorang yang pernah mengalami serangan jantung atau stroke, misalnya, biasanya membutuhkan target LDL yang jauh lebih rendah dibandingkan orang dewasa sehat tanpa faktor risiko apapun.
Satuan yang paling sering digunakan oleh laboratorium di Indonesia adalah miligram per desiliter atau mg/dL. Saat membaca hasil tes, pastikan kamu membandingkan setiap angka dengan rentang rujukan yang tercantum dan tidak hanya berfokus pada kolesterol total.
Arti Kolesterol Total
Kolesterol total menunjukkan jumlah keseluruhan Kolesterol yang beredar dalam darah. Angka ini mencakup Kolesterol yang dibawa oleh beberapa jenis lipoprotein, termasuk LDL dan HDL.
Pada orang dewasa, kolesterol total di bawah 200 mg/dL umumnya dianggap sebagai kadar yang paling aman atau ideal. Kadar 200-239 mg/dL perlu mendapat perhatian lebih, sedangkan hasil 240 mg/dL atau lebih menunjukkan kadar yang tinggi dan perlu dievaluasi dokter.
Namun, kolesterol total tidak dapat dijadikan sebagai acuan untuk menunjukkan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Dua orang dapat memiliki angka total yang sama, tetapi tingkat risikonya berbeda karena komposisi LDL dan HDL yang berbeda. Itulah sebabnya kamu sebaiknya melihat seluruh komponen profil lipid, dan tidak langsung menyimpulkan kondisi kesehatanmu hanya dari satu angka saja.
Sebagai contoh, kolesterol total 195 mg/dL memang masih berada di bawah batas 200 mg/dL. Akan tetapi, apabila LDL tinggi dan HDL rendah, profil tersebut belum tentu optimal. Sebaliknya, kolesterol total yang sedikit lebih tinggi mungkin dipengaruhi oleh HDL yang juga tinggi. Penilaian medis tetap harus memperhatikan komposisinya.
Utamakan Nilai LDL
LDL merupakan singkatan dari low-density lipoprotein. Komponen ini sering disebut sebagai “kolesterol jahat” karena kadar LDL yang tinggi dapat mendorong penumpukan Kolesterol dan pembentukan plak pada dinding arteri. Penumpukan tersebut membuat pembuluh darah menyempit serta meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
Rentang LDL pada orang dewasa umumnya dibaca sebagai berikut:
| Kadar LDL | Kategori umum |
| Kurang dari 100 mg/dL | Optimal |
| 100–129 mg/dL | Mendekati optimal atau sedikit di atas optimal |
| 130–159 mg/dL | Batas tinggi |
| 160–189 mg/dL | Tinggi |
| 190 mg/dL atau lebih | Sangat tinggi |
Kategori tersebut berguna untuk memahami hasil laboratorium, tetapi target terapinya tetap bersifat individual. Orang dengan risiko rendah atau menengah umumnya diarahkan pada LDL tidak lebih dari 100 mg/dL. Pada orang dengan risiko tinggi terhadap serangan jantung atau stroke, dokter dapat menetapkan target 70 mg/dL atau lebih rendah; pada kondisi tertentu dengan risiko sangat tinggi, targetnya dapat mencapai 55 mg/dL atau lebih rendah.
Jadi, jangan lantas beranggapan bahwa hasil LDL "aman" hanya karena angkanya belum mencapai 190 mg/dL. Diabetes, tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok, penyakit ginjal, riwayat keluarga, dan penyakit kardiovaskular yang sudah ada dapat membuat target LDL kamu lebih ketat.
Jangan Abaikan HDL
HDL adalah singkatan dari high-density lipoprotein. Jenis lipoprotein ini membantu membawa Kolesterol dari jaringan dan pembuluh darah kembali ke hati, sehingga sering disebut sebagai “kolesterol baik”. Secara umum, kadar HDL yang lebih tinggi berhubungan dengan risiko penyakit jantung dan stroke yang lebih rendah.
Untuk pria dewasa, HDL di bawah 40 mg/dL dianggap rendah. Pada wanita dewasa, HDL di bawah 50 mg/dL dianggap rendah. Nilai 60 mg/dL atau lebih umumnya dipandang sebagai kadar terbaik bagi kedua kelompok.
Meski begitu, HDL tinggi bukan alasan untuk mengabaikan LDL. Menaikkan angka HDL saja juga bukan tujuan utama pengobatan Kolesterol karena bukti menunjukkan bahwa perubahan HDL tidak selalu langsung menurunkan risiko penyakit jantung. Dalam praktik medis, penurunan LDL sesuai tingkat risiko tetap menjadi prioritas utama.
Dengan kata lain, kamu tidak bisa “menetralkan” LDL yang sangat tinggi hanya karena HDL juga tinggi. Keduanya perlu dibaca sebagai bagian dari gambaran kesehatan yang lebih luas.
Perhatikan Trigliserida
Trigliserida bukan jenis Kolesterol, melainkan bentuk lemak yang digunakan tubuh sebagai cadangan energi. Walaupun berbeda, trigliserida tetap diperiksa dalam profil lipid karena kadar yang berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Kadar trigliserida normal adalah kurang dari 150 mg/dL. Nilai 150-199 mg/dL biasanya dianggap sebagai batas tinggi, sedangkan 200 mg/dL atau lebih termasuk tinggi dan dapat memerlukan penanganan lebih lanjut.
Kadar trigliserida dapat meningkat akibat pola makan berlebihan, konsumsi minuman tinggi gula, berat badan berlebih, diabetes yang tidak terkontrol, atau konsumsi alkohol. Karena trigliserida bisa berubah sesuai makanan yang baru dikonsumsi, dokter atau laboratorium mungkin akan meminta kamu berpuasa sebelum dilakukan pemeriksaan.
Trigliserida yang sangat tinggi juga perlu mendapat perhatian khusus karena tidak hanya berhubungan dengan kesehatan jantung. Pada kadar yang ekstrem, risiko peradangan pankreas atau pankreatitis dapat meningkat.
Gunakan Non-HDL sebagai Petunjuk
Non-HDL dihitung dengan mengurangi HDL dari kolesterol total. Angka ini mencakup LDL dan berbagai partikel lain yang dapat berkontribusi terhadap pembentukan plak, seperti VLDL atau very-low-density lipoprotein.
Untuk kebanyakan orang dewasa, kadar non-HDL yang sehat adalah kurang dari 130 mg/dL. Angka ini dapat membantu dokter mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang semua jenis Kolesterol yang berpotensi merugikan pembuluh darah.
Contohnya, apabila kolesterol total kamu 210 mg/dL dan HDL 55 mg/dL, maka non-HDL adalah 155 mg/dL. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jumlah gabungan partikel yang berpotensi menyebabkan aterosklerosis masih berada di atas batas umum, meskipun HDL sudah cukup baik.
Seperti LDL, target non-HDL juga dapat dibuat lebih rendah pada orang yang memiliki diabetes, penyakit jantung, riwayat stroke, atau faktor risiko lainnya. Dokter akan menafsirkan angka tersebut bersama hasil pemeriksaan dan riwayat kesehatanmu.
Sesuaikan dengan Usia
Batas kadar Kolesterol untuk anak dan remaja tidak sama dengan batas orang dewasa. Pada usia 19 tahun atau lebih muda, kadar yang dinilai sehat secara umum adalah kolesterol total kurang dari 170 mg/dL, LDL kurang dari 110 mg/dL, non-HDL kurang dari 120 mg/dL, dan HDL lebih dari 45 mg/dL.
Pemeriksaan pertama pada anak umumnya dapat dilakukan pada usia 9-11 tahun dan diulang setiap lima tahun. Pemeriksaan mungkin dilakukan lebih dini, bahkan mulai usia dua tahun, jika terdapat riwayat keluarga dengan Kolesterol sangat tinggi, serangan jantung, atau stroke pada usia muda.
Pada orang dewasa muda tanpa faktor risiko, pemeriksaan dapat dilakukan secara berkala setiap beberapa tahun. Frekuensinya perlu ditingkatkan seiring pertambahan usia atau jika kamu mempunyai penyakit jantung, diabetes, hipertensi, obesitas, kebiasaan merokok, maupun riwayat keluarga dengan hiperkolesterolemia.
Karena rekomendasinya dapat berbeda, jadwal pemeriksaan terbaik sebaiknya dibicarakan dengan dokter. Jangan menunggu gejala muncul karena Kolesterol tinggi biasanya berkembang tanpa keluhan.
Kenali Faktor Risikonya
Kadar Kolesterol tidak hanya dipengaruhi oleh satu jenis makanan. Pola hidup, kondisi kesehatan, usia, dan faktor genetik saling berinteraksi dalam menentukan hasil profil lipid.
Beberapa faktor yang patut kamu perhatikan antara lain:
- Pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans. Keduanya dapat meningkatkan LDL. Sumber lemak jenuh antara lain daging berlemak, produk susu tinggi lemak, mentega, serta minyak kelapa dan minyak sawit.
- Kurang bergerak. Aktivitas fisik yang rendah dapat memicu kenaikan berat badan dan berkaitan dengan profil Kolesterol yang kurang sehat.
- Merokok. Rokok dapat merusak pembuluh darah dan menurunkan HDL, sehingga endapan lemak lebih mudah terbentuk.
- Kelebihan berat badan atau obesitas. Kondisi ini berkaitan dengan trigliserida dan LDL yang lebih tinggi serta HDL yang lebih rendah.
- Diabetes tipe 2. Diabetes dapat menurunkan HDL dan meningkatkan LDL, yang kemudian memperbesar risiko penyakit jantung dan stroke.
- Riwayat keluarga. Kelainan genetik seperti hiperkolesterolemia familial juga dapat menyebabkan LDL sangat tinggi sejak usia muda.
- Pertambahan usia. Kemampuan tubuh membersihkan Kolesterol dari darah dapat menurun seiring bertambahnya usia.
Faktor genetik dan usia memang tidak dapat diubah. Namun, mengetahui keduanya membantu kamu menentukan kapan harus memulai pemeriksaan dan seberapa agresif kadar LDL perlu dikendalikan.
Lakukan Tes dengan Benar
Profil lipid dilakukan melalui pengambilan sampel darah. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan kolesterol total, LDL, HDL, non-HDL, dan trigliserida sehingga dokter bisa menilai risiko secara lebih akurat.
Sebagian pemeriksaan Kolesterol dapat dilakukan tanpa puasa. Namun, kamu mungkin diminta tidak makan dan hanya minum air selama 8-12 jam sebelum tes, terutama jika dokter ingin menilai trigliserida atau profil lipid puasa. Selalu ikuti petunjuk dokter atau laboratorium karena kebutuhan persiapan setiap pasien dapat berbeda.
Sebelum tes, beri tahu petugas kesehatan mengenai obat atau suplemen yang tengah kamu konsumsi serta kondisi medis yang kamu miliki. Jangan menghentikan obat resep sendiri hanya untuk mendapatkan hasil yang dianggap lebih baik.
Jika hasilnya tidak normal, dokter dapat menyarankan pemeriksaan ulang. Evaluasi tambahan mungkin diperlukan untuk mencari penyebab sekunder, misalnya diabetes, gangguan tiroid, atau penyakit tertentu yang dapat memengaruhi metabolisme lipid.
Atur Pola Makan
Menjaga Kadar Kolesterol Normal bukan berarti kamu harus menghindari semua makanan berlemak. Langkah yang lebih penting adalah membatasi lemak jenuh dan menghindari lemak trans, kemudian menggantinya dengan lemak tak jenuh tunggal atau ganda.
Pilihan yang dapat kamu terapkan sehari-hari meliputi:
- Memperbanyak sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
- Memilih ikan, tahu, tempe, ayam tanpa kulit, atau daging tanpa banyak lemak.
- Mengurangi gorengan, daging berlemak, mentega, krim, dan produk susu tinggi lemak.
- Mengganti sebagian lemak jenuh dengan minyak nabati cair, kacang, biji-bijian, alpukat, atau ikan berlemak.
- Membatasi makanan olahan, minuman manis, dan porsi karbohidrat berlebih, terutama jika trigliserida tinggi.
Serat larut dari oat, kacang-kacangan, apel, buah sitrus, barley, dan psyllium dapat membantu menghambat penyerapan Kolesterol di saluran pencernaan. Program Therapeutic Lifestyle Changes dari NHLBI memasukkan peningkatan serat larut serta sterol atau stanol tumbuhan sebagai salah satu strategi untuk membantu menurunkan LDL.
Perubahan kecil tetapi konsisten biasanya lebih realistis daripada diet ekstrem. Misalnya, kamu dapat mengganti sarapan tinggi lemak dengan oatmAleal dan buah, memilih lauk yang dipanggang daripada digoreng, atau menambah sayuran pada setiap makan utama.
Aktif Bergerak dan Berhenti Merokok
Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan jantung, mengendalikan berat badan, dan memperbaiki berbagai faktor risiko metabolik. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan 150-300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang atau 75-150 menit aktivitas intensitas berat setiap minggu, ditambah latihan penguatan otot setidaknya dua hari per minggu.
Kamu tidak harus langsung berolahraga berat. Jalan cepat, bersepeda, berenang, atau melakukan pekerjaan rumah secara aktif tetap dapat dihitung sebagai aktivitas fisik. Jika selama ini kamu jarang bergerak, mulailah dengan durasi singkat dan tingkatkan frekuensi serta intensitasnya secara bertahap.
Berhenti merokok juga penting karena kandungan yang ada didalam rokok dapat merusak pembuluh darah dan dapat menurunkan kadar HDL. Pada saat yang sama, pertahankan juga berat badan yang ideal, tidur yang cukup, dan kelola stres sebagai bagian dari strategi menyeluruh untuk memperbaiki kesehatan jantung.
Jika kamu mempunyai penyakit jantung, sesak saat beraktivitas, cedera, atau kondisi kronis lainnya, konsultasikan jenis olahraga yang sekiranya aman untuk dilakukan dengan Dokter.
Ketahui Kapan Perlu Penanganan Medis
Tidak semua hasil Kolesterol tinggi langsung membutuhkan obat. Dokter biasanya menilai kadar LDL, usia, tekanan darah, riwayat diabetes, kebiasaan merokok, riwayat keluarga, serta kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular sebelum menentukan jenis terapi.
Perubahan gaya hidup tetap menjadi dasar penanganan. Namun, obat dapat diperlukan jika kadar LDL sangat tinggi, risiko kardiovaskular tergolong tinggi, atau perubahan pola hidup belum cukup menurunkan Kolesterol. Salah satu kelompok obat yang paling sering digunakan adalah statin.
LDL 190 mg/dL atau lebih perlu dievaluasi secara medis karena masuk kategori sangat tinggi dan dapat berkaitan dengan hiperkolesterolemia familial. Orang yang sudah mengalami serangan jantung, stroke, atau penyakit pembuluh darah juga biasanya membutuhkan target LDL yang lebih rendah dan penanganan yang lebih intensif.
Jangan membeli atau menghentikan obat Kolesterol tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Karena dosis dan jenis obat perlu disesuaikan dengan manfaat, risiko efek samping, kondisi hati atau ginjal, obat lain yang juga dikonsumsi, serta target LDL masing-masing pasien.
Waspadai Berbagai Mitos yang Beredar Tentang Kolesterol
Mitos yang paling umum adalah bahwa tubuh akan memberikan tanda khusus ketika Kolesterol meningkat. Kenyataannya, Kolesterol tinggi biasanya tidak menimbulkan gejala sehingga rasa sehat tidak bisa dijadikan patokan.
Mitos berikutnya adalah bahwa hanya orang bertubuh gemuk yang dapat mengalami Kolesterol tinggi. Berat badan memang berpengaruh, tetapi orang dengan berat badan normal pun tetap bisa memiliki kadar LDL tinggi akibat genetik, pola makan, diabetes, gangguan kesehatan tertentu, atau faktor usia.
Ada pula anggapan bahwa satu hasil kolesterol total sudah cukup untuk menilai kesehatan jantung. Padahal, kamu memerlukan profil lipid lengkap dan penilaian faktor risiko agar hasilnya tidak disalahartikan.
Yang paling penting, tetap jaga gaya hidup sehat meskipun profil lipid-mu mungkin normal. Menjaga pola makan, rutin bergerak, tidak merokok, serta melakukan pemeriksaan berkala tetap diperlukan agar Kolesterol dan risiko kardiovaskular tetap terkendali.
Catatan: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis atau terapi dari dokter. Bila hasil profil lipid kamu berada di luar batas rujukan, terutama LDL 190 mg/dL atau lebih, bawalah hasil tersebut ke dokter agar target Kolesterol dapat ditentukan berdasarkan kondisi kesehatanmu secara menyeluruh.


