Senin, 18 November 2013

'Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan'



Jujur aja saya belum baca buku ini sama sekali, jadi kalo disuruh ngereview isi buku ini dari awal sampe akhir, saya mending angkat tangan duluan sambil ngibarin bendera puitih tanda mengalah haha...#Glunthang

Tapi dari beberapa berita yang saya baca di detik.com, entah kenapa saya mulai tertarik untuk nyari tau sosok seperti apakah sebenernya pak Hoegeng ini, dan kenapa kisah hidupnya layak untuk diangkat menjadi sebuah buku Biografi yang ditulis oleh Suhartono dan diterbitkan oleh PT Kompas Media Nusantara.

Dan setelah saya baca satu persatu berita tentang beliau (Pak Jenderal Hoegeng) baru akhirnya saya tau kenapa kisah hidup beliau penting untuk diangkat kedalam sebuah buku Biografi, khususnya di era reformasi seperti sekarang ini, dimana para pejabat kita lebih banyak yang hanya mementingkan dirinya sendiri ketimbang nasib bawahan dan rakyatnya *ya biarpun nggak semuanya kaya gitu sih

----

Menurut yang saya baca, Pak Hoegeng pernah menjabat sebagai menteri sekretaris presidium, kepala jawatan Imigrasi, hingga terakhir menjadi Kapolri. Untuk lebih lengkapnya bisa anda baca DISINI.

Dan yang menarik dari sifat dan perilaku beliau selama menjabat adalah beliau Menolak untuk dikawal baik itu dirumah ataupun dikantornya

Dalam buku Biografinya, seperti yang ditulis oleh Suhartono, Beliau sempat berkata, "Saya tidak memerlukan pengawal pribadi di rumah dan di kantor," kepada sekretarisnya Sudharto atau Dharto. Saat itu Dharto baru menjabat sebagai sekretaris Hoegeng dan baru saja menemui Kepala Biro Administrasi dan Organisasi Setneg, Sarojo Hanggoro.

Dharto diberitahu hak-hak Hoegeng oleh Hanggoro, namun ketika ia menyampaikannya kepada Hoegeng, beliau malah menjawab "Hidup Saya berserah saja, tak perlu dikawal-kawal. Kalau saya mau mati ya mati saja. Tidak usah pakai pengawal atau penjaga rumah,"

Menurutnya, pengawal yang berjaga di depan pos jaga di rumah pun tak diperlukan. Pengawal itu justru akan membuat teman-temannya sungkan untuk bersilaturahmi. "Nanti teman-teman, tidak ada yang berani ke rumah karena harus lapor-lapor dulu," tutur Hoegeng.

---

Selain itu Hoegeng pun selalu membawa tasnya sendiri. Hoegeng sehari-hari membawa dua tas, yakni tas berisi dokumen kerja dan catatan kegiatan pribadinya. Suatu hari, Hoegeng menumpang mobil ajudannya Sudharto atau Dharto.

Hoegeng tampak tak canggung dan sungkan duduk di mobil itu. Dan saat sang ajudan ingin membawakan tasnya, Hoegeng dengan sopan menolak. "Terima kasih Mas Dharto, tidak usah. saya masih kuat dan bisa membawa sendiri," ujar Hoegeng kepada ajudannya.

Saat itu, Dharto terus memaksa Hoegeng. Namun Hoegeng yang saat itu menjadi menteri/sekretaris presidium kabinet menolak dengan halus. Hingga akhirnya Dharto, merajuk soal hubungan ayah dan anak. "Pak Hoegeng, misalkan Pak Hoegeng itu bapak saya dan saya ini anaknya. Apakah pantas anaknya jalan lenggang kangkung dan tidak membantu apa-apa, padahal bapaknya bawa dua tas di kanan kirinya?" tutur Dharto ke Hoegeng.

Mendengar itu, akhirnya Hoegeng pun rela memberikan satu tasnya untuk dibawa Dharto sedang satu tas lagi tetap dibawa olehnya. "Monggo kalau Mas Dharto mau membantu," tutur Hoegeng kepada sekretaris sekaligus ajudannya itu.

---

Bahkan, pria yang lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 inipun merupakan sosok yang disiplin.
 
Dia selalu datang lebih pagi. Ini yang ditunjukkan Hoegeng ketika menjabat sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet. Saat itu dia dilantik menjadi menteri di Kabinet Dwikora III oleh Presiden Soekarno pada tanggal 27 Maret 1966 di Istana Negara. 

Cerita soal kedisiplinan Hoegeng dikisahkan oleh mantan sekretarisnya Soedharto Martopoespito. Kala itu jam kerja di lingkungan Sekretariat Negara (Setneg) dimulai pukul 07.00 WIB dan pulang ke rumah pukul 14.00 WIB. 

Pada hari pertama menjabat, Hoegeng rupanya datang lebih dulu dari jam kerja. "Selamat pagi Mas Dharto" sapa Hoegeng kepada Dharto yang datang beberapa menit sebelum pukul 07.00 WIB. Disapa atasannya, Dharto terkejut dan malu. 

Esoknya Dharto berusaha datang lebih awal, namun Hoegeng ternyata selalu 'mengalahkannya; dengan datang lebih pagi. Hoegeng saat itu tinggal di rumah sewaannya di Jalan Madura, Menteng, Jakarta Pusat.

Pada suatu hari Dharto pun bertekad mengalahkan bosnya datang lebih cepat. Setelah mengantar ibunya ke Stasiun Gambir pukul 05.00 WIB, Dharto kemudian langsung ke kantor. Hari itu, Dharto menang. Dia bisa menyapa Hoegeng yang datang lebih lambat daripada dirinya. 

Tapi karena tak mau dikalahkan, keesokan harinya dia (Pak Hoegeng) datang lebih pagi lagi yakni pukul 05.30 WIB. Hoegeng berhasil menyapa lebih dulu sekretarisnya. "Selamat pagi Mas Dharto," begitu sapa Hoegeng seperti dikisahkan dalam buku ini. Sejak saat itu Hoegeng selalu datang pukul 05.30 WIB sambil meminta Dharto datang seperti biasa atau beberapa menit sebelum jam kerja dimulai. Dari kebiasaan ini, Dharto mulai mengenal sosok Hoegeng sebagai pimpinan yang disiplin dan ramah.

---

Andai masih ada Hoegeng Hoegeng lain di Era Reformasi ini, mungkin nggak akan ada lagi pejabat yang ditahan karena tersandung kasus korupsi... pray and hope :)

Sedang Memuat...

0 komentar:

Poskan Komentar

Connected with Me